
Oleh Kemas Edy Junaidi
Bukan sekadar festival, “Marpesta QRIS” yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar menjadi momentum besar dalam mempercepat transformasi ekonomi digital di wilayah kerja Simalungun, Pematangsiantar, Batubara, Toba, Samosir, Asahan, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu Selatan (SisiBatasLabuhan).
Melalui perpaduan edukasi, pesta rakyat, pasar murah, kuliner, olahraga, hingga pameran UMKM, masyarakat diajak merasakan langsung kemudahan bertransaksi menggunakan QRIS sebagai sistem pembayaran digital yang cepat, aman, mudah, dan efisien.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam memperluas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai instrumen pembayaran nasional yang semakin relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Tidak hanya menyasar kalangan pelaku usaha, Marpesta QRIS juga dirancang untuk membangun kebiasaan baru masyarakat agar semakin akrab dengan transaksi non-tunai dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui berbagai rangkaian kegiatan yang dikemas secara menarik, Bank Indonesia ingin menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan satu kali pemindaian kode QR, transaksi dapat dilakukan dalam hitungan detik tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar, sehingga lebih praktis, aman, dan efisien.
Marpesta QRIS juga menjadi wadah mempererat kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, lembaga perbankan, penyedia jasa sistem pembayaran, pelaku UMKM, serta masyarakat luas. Sinergi tersebut dinilai penting untuk membangun ekosistem ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh wilayah kerja KPw BI Pematangsiantar.
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah meningkatkan literasi masyarakat terhadap manfaat transaksi digital. Edukasi diberikan melalui berbagai sosialisasi mengenai penggunaan QRIS, keamanan transaksi digital, serta pentingnya memahami perkembangan sistem pembayaran modern agar masyarakat tidak tertinggal dalam era transformasi digital.
Selain memperkenalkan QRIS sebagai alat pembayaran, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai kampanye Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah. Kampanye tersebut mengajak masyarakat untuk semakin mencintai Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa, bangga menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi, serta memahami cara merawat dan mengenali keaslian uang Rupiah.
Tidak hanya itu, Bank Indonesia juga memperkenalkan fitur donasi digital melalui QRIS yang memungkinkan masyarakat menyalurkan bantuan sosial maupun donasi secara praktis, transparan, dan akuntabel.
Inovasi tersebut diharapkan mampu memperluas budaya berbagi di tengah masyarakat dengan memanfaatkan teknologi digital.
Suasana Marpesta QRIS semakin semarak melalui penyelenggaraan Marpesta Sembako dan Marpesta Kuliner. Dalam kegiatan ini masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan pokok maupun aneka kuliner lokal dengan menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran.
Cara tersebut tidak hanya memberikan pengalaman transaksi digital secara langsung, tetapi juga membantu meningkatkan omzet para pelaku UMKM yang telah mengadopsi sistem pembayaran non-tunai.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, penggunaan QRIS membuka peluang yang lebih besar dalam mengembangkan bisnis. Selain mempercepat proses pembayaran, QRIS juga membantu pencatatan transaksi menjadi lebih rapi sehingga memudahkan pelaku usaha dalam mengelola keuangan serta memperluas akses terhadap layanan keuangan formal.
Rangkaian kegiatan semakin meriah dengan hadirnya Siantar QRIS Run, festival seni budaya, pertunjukan hiburan rakyat, pameran UMKM, kedai kopi digital, hingga berbagai perlombaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.
Konsep tersebut menjadi bukti bahwa digitalisasi dapat dikemas secara edukatif sekaligus menghibur sehingga mampu menarik minat generasi muda maupun masyarakat umum.
Melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Bank Indonesia berharap penggunaan QRIS tidak hanya meningkat saat kegiatan berlangsung, tetapi juga menjadi kebiasaan baru dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Mulai dari berbelanja di pasar tradisional, membeli makanan di warung, membayar transportasi, hingga berdonasi, seluruh transaksi diharapkan semakin mudah melalui QRIS.
Digitalisasi pembayaran juga diyakini menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah. Ketika masyarakat dan pelaku usaha semakin terbiasa menggunakan sistem pembayaran digital, efisiensi transaksi akan meningkat, perputaran ekonomi menjadi lebih cepat, serta inklusi keuangan dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Melalui Marpesta QRIS, Bank Indonesia menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang membangun budaya baru yang lebih modern, inklusif, dan produktif.
Dengan dukungan pemerintah daerah, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat, QRIS diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di era digital.
Marpesta QRIS pun menjadi simbol bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Di balik kemeriahan pesta rakyat, tersimpan pesan besar bahwa setiap transaksi digital yang dilakukan hari ini merupakan langkah nyata menuju Indonesia yang semakin maju, efisien, dan berdaya saing tinggi.(*)


























Discussion about this post