Oleh BaBE
PEMATANGSIANTAR — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei didorong tidak hanya menjadi pusat industri, tetapi juga mesin pertumbuhan ekonomi yang mampu memberikan dampak pengganda bagi Pematangsiantar dan Simalungun.
Hal itu mengemuka dalam HORJA Economic Forum 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar, Rabu, 23 September 2026, di Aula Sisingamangaraja XII KPwBI Pematangsiantar.
Mengusung tema “Sinergi Kawasan, Akselerasi Pertumbuhan: Mengoptimalkan Dampak Pengganda KEK Sei Mangkei bagi Pematangsiantar–Simalungun”, forum membahas strategi memperkuat keterhubungan antarsektor agar aktivitas industri di KEK Sei Mangkei turut menggerakkan usaha, tenaga kerja, pertanian, perdagangan, jasa hingga pariwisata di wilayah sekitar.
Kepala KPwBI Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, menegaskan Bank Indonesia berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, Pematangsiantar dan Simalungun memiliki karakter ekonomi yang saling melengkapi. Simalungun memiliki kekuatan pada sektor pertanian dan industri pengolahan, sementara Pematangsiantar berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa.
Plh. Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar, Fidelis Sembiring, menyatakan dukungan terhadap penguatan sinergi kedua wilayah. Integrasi tersebut dinilai berpotensi membuka kesempatan usaha dan lapangan kerja baru sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB USU, Wahyu Sugeng Imam Soeparno, mengingatkan bahwa dampak pengganda KEK tidak terjadi secara otomatis. Diperlukan penguatan local linkage, terutama melalui rantai pasok lokal yang mampu membuat aktivitas ekonomi tetap berputar di daerah.
Dukungan juga datang dari Direktur PT Kawasan Industri Nusantara (Kinra), Alwin Abdi. Pengelola kawasan menyatakan kesiapan mendorong UMKM sekitar KEK agar dapat menjadi pemasok kebutuhan industri melalui program Link and Match IKM.
Dari sektor pertanian, Wakil Sekretaris Jenderal KTNA Kabupaten Simalungun, Zulfikar Damanik, melihat peluang besar produksi pangan, hortikultura hingga kopi Simalungun untuk memasok kebutuhan KEK. Namun, persoalan pemasaran dan fasilitas pendukung masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.
Sementara itu, Ketua PHRI Kabupaten Simalungun, Robert Pardede, menilai pertumbuhan aktivitas industri di KEK juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap hotel, restoran, katering dan jasa pariwisata.
Ia mendorong pembentukan Simalungun Tourism Forum dan Tourism Corridor agar mobilitas pekerja industri dan tamu perusahaan dapat dikembangkan menjadi peluang pariwisata dan ekonomi kreatif.
Pemkab Simalungun melalui Staf Ahli Bupati, Debora Hutasoit, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan balai tenaga kerja dan berharap tenaga kerja lokal dapat terserap secara maksimal.
Di sektor pertanian, ia menyoroti masih lemahnya posisi tawar petani akibat keterbatasan cold storage. Petani juga didorong tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi mulai masuk ke hilirisasi, termasuk peluang memasok produk olahan seperti konsentrat buah bagi industri di kawasan.
Kepala Bappeda Kota Pematangsiantar, Sofie Saragih, turut menekankan pentingnya prioritas penyerapan tenaga kerja dari masyarakat sekitar kawasan.
Sebagai tindak lanjut, HORJA Economic Forum 2026 merumuskan penguatan program yang konkret dan terukur untuk menangkap multiplier effect KEK Sei Mangkei.
Pematangsiantar diarahkan sebagai business and service hub, meliputi hospitality, MICE, perdagangan dan transportasi. Sementara Simalungun diperkuat sebagai production and tourism hub.
Kunci berikutnya adalah membangun local supply chain melalui business matching dan local procurement antara tenant KEK Sei Mangkei dengan pelaku usaha lokal.
Dengan demikian, geliat industri di KEK Sei Mangkei diharapkan tidak berhenti di dalam kawasan, tetapi mengalir menjadi peluang ekonomi yang dirasakan masyarakat Pematangsiantar dan Simalungun.(*)


























Discussion about this post