
Di saat pemerintah pusat terus menggaungkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan pendidikan bermutu dan pemerataan kualitas sumber daya manusia melalui digitalisasi pembelajaran, kenyataan berbeda justru dialami para siswa SD Negeri 09 Desa N-3 Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Sekolah dasar yang telah berdiri sejak tahun 1952 itu hingga kini kembali hidup tanpa listrik setelah aliran listrik yang sempat menyala sekitar dua pekan diputus. Dampaknya bukan hanya menghambat proses belajar mengajar, tetapi juga membuat siswa kesulitan mendapatkan air bersih hingga fasilitas komputer tak dapat digunakan.

Oleh Saridun Limbong
LABUAN BATU – Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto pada poin keempat menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas nasional, melalui penguatan pendidikan, sains, teknologi, kesehatan, hingga pemerataan akses pendidikan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Namun semangat tersebut tampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh para siswa SD Negeri 09 Desa N-3 Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Hasil penelusuran awak media pada Sabtu, 25 Mei 2026, menemukan sekolah tersebut berada di tengah areal perkebunan kelapa sawit milik PTPN IV Regional I Aek Nabara, sekitar satu kilometer dari permukiman warga Dusun Bulu Cina.
Di lokasi terlihat jaringan listrik sebenarnya telah terpasang mulai dari gardu PLN hingga ke lingkungan sekolah. Namun, aliran listrik tidak lagi mengalir. Bahkan di beberapa titik ditemukan kabel telah terputus, sementara sejumlah tiang listrik tampak miring dan nyaris roboh.

Sempat Menyala Dua Minggu, Kemudian Diputus
Mantan Kepala SD Negeri 09 Aek Nabara, Abdul Karim, S.Pd., yang baru memasuki masa pensiun sekitar satu bulan lalu, menjelaskan bahwa pemasangan listrik tersebut merupakan program Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu yang dikerjakan pada masa libur semester Desember 2025.
Saat kegiatan belajar dimulai pada Januari 2026, listrik sempat berfungsi selama kurang lebih dua minggu.
Namun setelah itu, menurut Abdul Karim, pihak manajemen PTPN IV Regional I Aek Nabara datang ke sekolah dan menyampaikan bahwa aliran listrik harus dihentikan karena jalur tiang dan kabel dinilai mengganggu aktivitas panen serta mobilisasi kendaraan pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
Menurutnya, sekolah tersebut telah berdiri sejak tahun 1952 dan selama puluhan tahun belum pernah menikmati fasilitas listrik secara memadai.
Ia mengungkapkan, saat proses pemasangan tiang berlangsung, kontraktor sempat menyampaikan bahwa pihak perusahaan perkebunan keberatan karena belum ada izin.
Atas informasi itu, dirinya kemudian berkoordinasi dengan bagian terkait di pihak kebun. Bahkan bersama petugas perusahaan dilakukan pengukuran jarak antara tiang listrik, tanaman sawit, dan badan jalan agar tidak mengganggu aktivitas operasional perusahaan.
Namun setelah listrik menyala selama sekitar dua minggu, aliran tersebut tetap dihentikan.
Abdul Karim juga mengatakan Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu kemudian mengirimkan surat kepada pihak manajemen PTPN IV untuk meminta izin penggunaan jalur tersebut.

Akan tetapi, menurutnya, surat itu dibalas dengan penolakan berdasarkan pertimbangan aspek keselamatan kerja dan kelancaran operasional perusahaan.
“Dengan tidak adanya listrik, proses belajar mengajar menjadi terganggu. Komputer dan peralatan elektronik tidak bisa digunakan. Selama ini kami belajar apa adanya,” ujar Abdul Karim dengan nada kecewa.
Seorang perwakilan orang tua murid berinisial I mengaku heran mengapa keberatan baru muncul setelah seluruh jaringan listrik selesai dipasang dan bahkan sempat beroperasi.
Ia menuturkan, akibat tidak adanya listrik, pompa air sekolah tidak dapat digunakan sehingga para siswa terkadang harus mengambil air dari parit untuk memenuhi kebutuhan kamar mandi sekolah.
Menurutnya, kondisi itu berpotensi membahayakan keselamatan anak-anak karena mereka harus turun ke area parit yang berisiko tergelincir maupun terkena gigitan binatang berbisa.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, khususnya Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan, dapat memfasilitasi pertemuan dengan pihak PTPN IV agar ditemukan solusi terbaik sehingga sekolah kembali memperoleh aliran listrik.
Seorang guru di sekolah tersebut yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan bahwa dampak ketiadaan listrik jauh lebih serius daripada sekadar tidak berfungsinya komputer.
Karena pompa air tidak dapat dioperasikan, persediaan air di toilet sekolah sering kosong.
Akibatnya, ketika ada siswa yang mendesak ingin buang air besar, pihak sekolah terkadang terpaksa menghubungi orang tua agar datang menjemput anaknya pulang.
“Terkadang kami harus menelepon orang tua murid untuk menjemput anaknya yang sudah kebelet buang air,” ungkap guru tersebut.
Ia juga mengaku pernah menawarkan solusi kepada pihak perusahaan.
Menurutnya, apabila aliran listrik memang dianggap berpotensi membahayakan aktivitas panen, sekolah bersedia mematikan listrik sementara setiap kali kegiatan panen berlangsung.
Namun usulan tersebut, katanya, belum membuahkan penyelesaian.
Kisah SD Negeri 09 Desa N-3 Aek Nabara menjadi potret nyata masih adanya kesenjangan layanan pendidikan dasar di tengah gencarnya program transformasi pendidikan nasional.
Di satu sisi pemerintah mendorong digitalisasi sekolah, penggunaan teknologi pembelajaran, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun di sisi lain, masih terdapat sekolah yang bahkan belum dapat menikmati layanan listrik secara berkelanjutan untuk menjalankan aktivitas belajar mengajar.
Seluruh pihak terkait diharapkan dapat duduk bersama mencari solusi yang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak-anak, tanpa mengabaikan aspek keselamatan maupun operasional. Sebab, akses terhadap pendidikan yang layak merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.(#)



























Discussion about this post