
Kehadiran Menko AHY di Simalungun bukan sekadar kunjungan seremonial. Di hadapan ribuan jemaat, ia berbicara tentang keluarga, iman, pembangunan bangsa, hingga ikatan emosionalnya dengan Sumatera Utara yang kini mengalir dalam darah anak-anaknya.

Oleh WH Butarbutar
SIMALUNGUN – Suasana hangat dan penuh sukacita mewarnai pembukaan Sinode 2026 Gereja Pentakosta Indonesia yang digelar di Gedung Rajawali, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, Jumat (3/7/2026).
Momen tersebut menjadi istimewa setelah kehadiran Agus Harimurti Yudhoyono atau yang akrab disapa AHY mendapat sambutan meriah dari ribuan jemaat yang memadati arena kegiatan.

Dalam sambutannya, AHY mengaku merasakan ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat Sumatera Utara dan jemaat GPI yang hadir. Bahkan, ia menyebut suasana yang dirasakannya seperti kembali ke rumah sendiri.
“Saya sangat senang berada di sini. Saya merasa seperti pulang ke kampung sendiri, disambut keluarga sendiri,” ujar AHY yang langsung disambut tepuk tangan dan sorakan antusias para jemaat.
Kehadiran AHY dalam agenda akbar gerejawi tersebut merupakan tindak lanjut dari undangan Ketua Umum Sinode GPI, Pdt Dr HM Siburian, yang sebelumnya berkunjung ke Kantor Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI pada Mei 2026 lalu.
AHY juga mengungkapkan bahwa komunikasi dan silaturahmi antara Sinode GPI dengan pemerintah pusat turut mendapat dukungan dari legislator asal Sumatera Utara, Sabam Sinaga, yang sejak awal memfasilitasi pertemuan tersebut.

Dalam pidatonya, AHY tidak hanya berbicara mengenai pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga menegaskan pentingnya pembangunan karakter dan spiritualitas bangsa yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dari peran lembaga keagamaan, termasuk gereja.
Menurut AHY, pembangunan nasional yang berkelanjutan membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan institusi keagamaan dalam menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks.
“Negara tidak bisa dibangun hanya dengan jalan, jembatan, pelabuhan atau gedung-gedung megah. Pembangunan manusia, moral, dan karakter bangsa juga menjadi fondasi utama, dan di sinilah gereja memiliki peran yang sangat strategis,” ungkapnya.
Salah satu momen yang paling menyentuh perhatian jemaat adalah ketika AHY mengungkapkan hubungan keluarganya dengan Sumatera Utara setelah menikahi Annisa Pohan yang memiliki darah Batak.
Ia pun menyampaikan dengan bangga bahwa kedua anaknya kini juga memiliki darah Sumatera Utara yang mengalir dalam diri mereka.
“Anak saya sudah pasti setengah darah Sumut,” kata AHY yang kembali disambut riuh tepuk tangan jemaat.
Pernyataan tersebut sontak mencairkan suasana dan semakin mempererat kedekatan emosional antara AHY dan masyarakat Sumatera Utara yang hadir dalam acara tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum Sinode GPI, Pdt HM Siburian, memaparkan perjalanan panjang sejarah Gereja Pentakosta Indonesia yang telah dimulai sejak era 1930-an.
Menurutnya, perjalanan gereja tidak selalu mudah. Pada masa penjajahan Belanda hingga pendudukan Jepang, gereja menghadapi berbagai tantangan dan penolakan. Namun setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, GPI akhirnya memperoleh pengakuan hukum dan terus berkembang hingga menjadi salah satu organisasi gerejawi besar di Indonesia.
Saat ini, lanjutnya, GPI tengah menatap masa depan dengan cita-cita besar, salah satunya mendirikan sebuah universitas sebagai pusat pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Kristen di Indonesia.
Pdt HM Siburian menilai kehadiran AHY dalam pembukaan Sinode 2026 memiliki makna historis tersendiri bagi perjalanan gereja.
“Kehadiran Bapak Menko AHY memberikan suasana baru dan menciptakan sejarah bagi gereja kami. Ini bukan kebetulan, tentu sudah menjadi rencana Tuhan,” ujarnya.
Ia berharap pembukaan Sinode GPI 2026 dapat menjadi momentum kebangkitan semangat baru dalam pelayanan, penginjilan, serta peningkatan kualitas iman umat Kristen di tengah dinamika dunia yang terus berubah.
Dengan mengusung tema besar mengenai tantangan dan kompleksitas global, Sinode GPI 2026 diharapkan mampu melahirkan gagasan, strategi, dan kontribusi nyata gereja dalam mendukung pembangunan bangsa serta menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman.
Kehadiran AHY di tengah ribuan jemaat GPI pun menjadi simbol bahwa pembangunan Indonesia bukan hanya soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang memperkuat nilai-nilai spiritual, kebangsaan, dan persaudaraan yang menjadi fondasi utama masa depan negeri.(*)


























Discussion about this post