Oleh BaBE
Pematangsiantar — Suasana haru menyelimuti Auditorium Bank Indonesia Pematangsiantar Lantai 5, Selasa siang, 9 Desember 2025. Ratusan mahasiswa yang memadati ruangan itu tampak terdiam, larut dalam kisah yang menggetarkan hati. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar kembali menunjukkan komitmennya membangun budaya baca dan memperkuat literasi kaum muda—khususnya Generasi Z—melalui bedah buku karya penulis muda, Khoirul Trian, yang akrab disapa Trian.
Acara tersebut mengangkat buku fenomenal berjudul “Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?”, yang berhasil menjadi bestseller hanya dalam waktu tujuh hari sejak rilis. Sebuah pencapaian luar biasa dari seorang penulis yang masih berusia muda, namun mampu menyentuh jutaan pembaca dengan tema yang dekat dan menyakitkan: kehilangan peran ayah, baik secara fisik maupun emosional.
Trian Membongkar Luka, Mahasiswa Terharu Hingga Meneteskan Air Mata
Dalam kesempatan itu, Trian mengajak para peserta menyelami kisah hidupnya—mulai dari pergulatan batin dengan sang ayah, kerasnya dunia kerja yang memaksanya cepat dewasa, hingga proses panjang berdamai dengan masa lalu. Dalam pemaparannya yang jujur dan emosional, banyak mahasiswa terlihat mengusap air mata.
Selama dua jam setengah, ruangan seolah tak bernafas. Setiap kalimat Trian seperti mengetuk bagian terdalam dari hati para pendengarnya. Ketika sesi berbagi pengalaman dibuka, beberapa peserta bahkan tak kuasa menyelesaikan kalimat karena terbata menahan tangis.
Buku ini memuat petuah-petuah ayah, pesan moral tentang kekuatan, perjuangan, dan pentingnya membangun karakter. Lebih dari itu, karya ini menyerukan pentingnya kesadaran kolektif terhadap fenomena fatherless yang semakin banyak terjadi di Indonesia.
BI: Ini Bukan Sekadar Bedah Buku, Tapi Investasi Masa Depan Bangsa
Acara dibuka oleh Kepala Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Yudha Wirawan, yang menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya BI dalam membangun karakter bangsa melalui literasi.
“Bedah buku ini bukan hanya ruang untuk membaca dan merenung, tetapi upaya memperkuat literasi, membangun SDM unggul, serta memperdalam pemahaman tentang isu fatherless yang kini menjadi tantangan sosial besar,” ujar Yudha.
BI berharap kegiatan ini mampu, Meningkatkan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis Gen Z. Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya peran ayah dalam pembentukan karakter. Menjadi ruang diskusi yang hangat dan bermakna bagi penulis serta pembaca.
Gen Z Tersentuh: “Ini Cara Terbaik Menggerus Ketergantungan Gadget”
Di akhir acara, beberapa peserta seperti Azis Prayoga dan Humaira Mataul Khair Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam UISU Pematang Siantar mengaku sangat terinspirasi. Menurut mereka, acara seperti ini menjadi momentum penting untuk mengalihkan perhatian anak muda dari kecanduan gadget yang sulit dihindari.
“Kehadiran penulis dan dialog langsung seperti ini membuat kami tersadar bahwa membaca bisa jauh lebih menyentuh daripada bermain gadget,” tutur Nina.
Azis menambahkan, kegiatan ini seharusnya diadakan lebih sering agar semakin banyak anak muda yang tersadarkan mengenai pentingnya literasi dan refleksi diri.
BI Siap Gelar Acara Serupa dengan Skala Lebih Besar
Melihat antusiasme luar biasa, BI Pematangsiantar menyatakan siap menggelar acara serupa di tempat yang lebih besar dan bergengsi. Selain mahasiswa, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kota, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta wartawan dari media ekonomi dan bisnis Sisibatas Labuhan, WEBS.
Acara yang semula diperkirakan berlangsung biasa, berubah menjadi salah satu kegiatan literasi paling emosional dan berpengaruh di Kota Pematangsiantar tahun ini.(*)


























Discussion about this post