
Natal Pemkab Simalungun 2025 Diwarnai Kekecewaan: Pendeta Non-GKPS Merasa Tidak Dilibatkan
Catatan Pdt WH Butarbutar
Simalungun — Perayaan Natal Pemerintah Kabupaten Simalungun yang digelar pada Selasa, 9 Desember 2025, di Lapangan depan Ruang Harungguan Pematang Raya, mendadak menjadi perbincangan hangat setelah sejumlah pendeta dari berbagai denominasi gereja mengaku kecewa dan merasa tidak dihargai.
Kegiatan besar ini dipimpin oleh Ketua Panitia, Sekda Simalungun Mixnon A. Simamora, dan berjalan meriah dengan tema:
“Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24)
serta subtema:
“Kelahiran Yesus Kristus Menguatkan Kasih dan Semangat Baru Sebagai Keluarga Menuju Simalungun Maju.”
Namun di balik kemeriahan itu, muncul suara keberatan dari sejumlah pendeta di luar denominasi GKPS, yang menyebut pelaksanaan tersebut tidak mencerminkan semangat Oikumene yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Simalungun.
Pendeta Non-GKPS Tak Dilibatkan, Sebagian Pulang
Menurut pengakuan seorang pendeta dari Kecamatan Bandar Huluan, Pdt. WH Butarbutar, ia bersama beberapa pendeta lainnya datang memenuhi undangan panitia. Namun setibanya di lokasi, mereka terkejut karena 99% petugas ibadah berasal dari GKPS, sementara pendeta dari gereja lain tidak mendapat peran apa pun.
“Kami datang jauh-jauh, tetapi ternyata seluruh pelayan ibadah sudah ditetapkan dari satu denominasi saja. Kami jadi segan memakai jubah kebesaran, karena tidak dianggap bagian dari petugas,” ujar Pdt. WH Butarbutar.
Beberapa pendeta bahkan memilih pulang, karena merasa hadir layaknya jemaat biasa, bukan sebagai hamba Tuhan yang telah diundang secara resmi.
“Ini Bukan Oikumene” – Kapal Besar yang Mulai Retak
Simalungun selama ini dikenal memiliki simbol Kapal Oikumene—sebuah lambang persatuan gereja-gereja dari berbagai denominasi, tanpa memandang besar kecilnya jemaat. Di bawah salib Kristus, semua gereja dianggap setara.
Karena itulah para pendeta menyesalkan situasi kali ini.
Perayaan Natal yang seharusnya menjadi momen bersama, dinilai berubah menjadi dominan satu denominasi.
“Bila namanya Natal Oikumene, maka seluruh gereja beserta para pendetanya harus dilibatkan. Dimulai dengan doa bersama melalui BKAG (Badan Kerja Sama Antar Gereja). Tahun ini tidak terjadi,” ujar salah satu pendeta yang enggan disebut namanya.
Beberapa pendeta menilai kondisi ini sebagai “ketidakharmonisan yang belum pernah terjadi sebelumnya”.(*)



























Discussion about this post