
Sudah hampir sembilan bulan sejak jembatan penghubung di Dusun Aek Juhut, Desa Pardomuan, Kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah, ambruk diterjang bencana alam pada November 2025. Hingga kini, akses vital yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat belum juga pulih. Kondisi tersebut memaksa warga memutar perjalanan hingga enam kilometer, menghambat distribusi hasil pertanian, aktivitas ekonomi, hingga mengganggu akses pendidikan anak-anak.
Oleh S Simatupang
TAPANULI TENGAH – Kepala Desa Sampang Maruhur, Mester Sigalingging, bersama Pasi Intel Yonif TP 905/TS, Letda Inf F. Gultom, turun langsung meninjau lokasi jembatan yang ambruk pada Minggu (2/8/2026) siang. Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi lapangan sekaligus mendengar berbagai keluhan masyarakat yang selama ini terdampak akibat putusnya akses transportasi tersebut.

Di lokasi, Mester Sigalingging menjelaskan bahwa jembatan yang berada di atas aliran sungai di Dusun Aek Juhut merupakan jalur penghubung penting bagi masyarakat Desa Sampang Maruhur, Desa Siordang, hingga Kelurahan Bajamas di Kecamatan Sirandorung.
Sejak jembatan ambruk akibat bencana alam pada November 2025, masyarakat tidak lagi dapat melintas dengan aman. Akibatnya, warga harus mengambil jalur alternatif yang lebih jauh dengan tambahan jarak sekitar enam kilometer.
Menurut Mester, kondisi tersebut sangat memberatkan masyarakat, khususnya para petani yang setiap hari mengangkut hasil kebun berupa karet, tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, serta berbagai hasil pertanian lainnya menuju pusat penjualan.
Tidak hanya sektor pertanian yang terdampak, distribusi kebutuhan pokok juga ikut terganggu. Masyarakat harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk membawa sembako maupun mengurus berbagai keperluan administrasi ke Kantor Kecamatan Sirandorung. Demikian pula saat menuju Pasar Kamis yang selama ini menjadi pusat aktivitas perdagangan warga dan berjarak sekitar tiga kilometer dari Desa Sampang Maruhur apabila melalui jalur normal.
Yang paling memprihatinkan, kata Mester, adalah kondisi anak-anak sekolah. Para pelajar tingkat SD, SMP, hingga SMA kini harus memutar perjalanan karena khawatir melintasi jembatan yang telah ambruk dan berisiko jatuh ke sungai.
“Begitu juga anak sekolah SD, SLTP, dan SLTA harus berkeliling karena takut terjatuh ke sungai di bawah jembatan.
Itulah keluhan masyarakat Desa Sampang Maruhur, Desa Siordang, maupun warga Kelurahan Bajamas,” ujar Mester Sigalingging.
Sementara itu, Pasi Intel Yonif TP 905/TS, Letda Inf F. Gultom, menyampaikan bahwa aspirasi dan keluhan masyarakat yang diterima dalam peninjauan tersebut akan segera diteruskan kepada Komandan Yonif TP 905/TS, Letkol Inf. Maruli Simajuntak, sebagai bentuk perhatian terhadap kesulitan yang dihadapi warga.
Masyarakat berharap peninjauan ini menjadi langkah awal lahirnya solusi nyata agar pembangunan kembali jembatan dapat segera direalisasikan. Pasalnya, keberadaan jembatan tersebut merupakan akses utama yang menopang roda perekonomian, pendidikan, dan mobilitas masyarakat di wilayah Kecamatan Sirandorung.
Selama jembatan belum diperbaiki, ribuan aktivitas warga akan terus terganggu, sementara harapan mereka tetap tertuju pada hadirnya perhatian dan percepatan pembangunan dari pemerintah serta pihak-pihak terkait.(*)



























Discussion about this post