
Oleh Redaksi/Ril
TAPANULI TENGAH — Kepedulian terhadap warga terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah kembali mengemuka. Duta Lingkungan Indonesia, Erik Firmansyah Pasaribu, turun langsung ke Lorong 3 Bonalumban, Kecamatan Tukka, wilayah yang disebut sebagai salah satu lokasi terdampak terparah, untuk mendengar secara langsung keluhan masyarakat, sesaat setelah kembali dari Jakarta.
Kehadiran Erik di tengah masyarakat bukan sekadar kunjungan simbolis. Ia menyusuri lorong-lorong permukiman yang rusak dan berdialog dengan warga yang hingga kini masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar pascabencana.
Banyak Wilayah Belum Tersentuh Bantuan
Dalam keterangannya, Erik mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi warga, khususnya di Lingkungan II Sigotom, Bonalumban. Menurutnya, masih banyak lorong yang belum tersentuh bantuan dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Ada masyarakat yang harus berjalan sangat jauh hanya untuk mendapatkan bantuan. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Di tengah bencana, warga seharusnya dilayani, bukan dipersulit,” ujar Erik.
Ia menegaskan, masyarakat Tapteng saat ini sangat membutuhkan perhatian dan bantuan nyata dari pemerintah untuk bertahan hidup di tengah situasi darurat.
Soroti Lambannya Penanganan dan Penyaluran Bantuan
Sebagai putra daerah sekaligus pegiat lingkungan, Erik Pasaribu mengaku prihatin dengan penanganan bencana yang dinilainya belum optimal. Ia menilai pemerintah daerah belum sepenuhnya berlaku adil dalam menjangkau seluruh wilayah terdampak.
“Penanganan bencana harus adil. Semua warga yang terdampak berhak mendapat bantuan, tanpa melihat lokasi atau latar belakang apa pun,” tegasnya.
Erik juga menyoroti lambatnya penyaluran bantuan yang disebut-sebut telah menumpuk di sejumlah kantor pemerintah.
“Bantuan yang sudah tersedia seharusnya segera disalurkan. Jangan ditahan. Masyarakat dalam kondisi lapar dan membutuhkan. Saya juga mendengar Pemkab Tapteng menerima bantuan senilai Rp500 juta dari Pemerintah Kabupaten Simalungun. Pertanyaannya, ke mana dana itu disalurkan?” ungkap Erik dengan nada kritis.
Kekecewaan Warga Mengemuka
Saat meninjau langsung kondisi lapangan, Erik mengaku banyak mendengar keluhan dan kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan daerah. Bahkan, sebagian warga menyampaikan penyesalan atas pilihan politik mereka.
“Kami ini pendukung Pak Masinton. Sudah 10 kali kami coblos, tapi lihatlah keadaan kami sekarang,” ujar salah seorang warga Kecamatan Tukka dengan nada kecewa.
Pernyataan tersebut mencerminkan keresahan masyarakat yang merasa kurang mendapat perhatian di saat paling membutuhkan kehadiran pemerintah.
“Pemimpin Harus Hadir Membawa Solusi, Bukan Sekadar Kamera”
Menutup keterangannya, Erik Firmansyah Pasaribu menegaskan bahwa kepemimpinan sejati diuji dalam situasi krisis. Menurutnya, kehadiran pemimpin di tengah bencana harus disertai tindakan nyata.
“Pemimpin harus adil dan benar-benar hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya datang membawa kamera, tetapi membawa bantuan dan solusi. Kondisi bencana bukan ajang kampanye jalanan,” pungkas Erik.
Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan bencana dan memastikan seluruh bantuan tersalurkan secara cepat, merata, dan transparan, demi memulihkan kehidupan masyarakat Tapanuli Tengah, khususnya di Kecamatan Tukka.(*)



























Discussion about this post