Oleh Babe
PEMATANGSIANTAR — Perkembangan inflasi di awal tahun 2026 menunjukkan sinyal yang menenangkan. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, mengungkapkan bahwa inflasi Januari 2026 berada dalam kondisi cukup terkendali, bahkan dua daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah kerja BI Pematangsiantar tercatat mengalami deflasi.
Melalui rilis tertulis yang diterima redaksi beritamonalisa.com pada 5 Februari 2026, Ahmadi Rahman menjelaskan, Kota Pematangsiantar mencatat deflasi bulanan sebesar -0,11 persen (month to month/mtm). Meski demikian, secara tahunan inflasi masih berada pada level 4,70 persen (year on year/yoy), sementara inflasi tahun berjalan tercatat -0,11 persen (year to date/ytd).
Deflasi yang lebih dalam terjadi di Kabupaten Labuhanbatu. Daerah ini mengalami deflasi bulanan sebesar -0,83 persen (mtm), dengan inflasi tahunan 3,73 persen (yoy) dan inflasi tahun berjalan -0,83 persen (ytd).
Panen Datang, Harga Pangan Turun
Bank Indonesia mencatat, deflasi Januari 2026 terutama dipicu oleh mulainya masa panen di sejumlah sentra produksi, yang berdampak pada melimpahnya pasokan komoditas pangan dan penurunan harga di tingkat konsumen. Faktor lain yang turut berperan adalah base effect, yakni tingginya inflasi pada Desember 2025, sehingga harga-harga pada awal tahun relatif lebih rendah.
Di Kota Pematangsiantar, penurunan harga terutama disumbang oleh cabai merah, andaliman, dan cabai rawit. Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, deflasi dipengaruhi oleh turunnya harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.
Namun demikian, laju deflasi tidak berlangsung tanpa hambatan. Kenaikan harga emas perhiasan tercatat menjadi faktor penahan deflasi di kedua wilayah tersebut.
Menurut BI, meningkatnya harga emas tidak terlepas dari ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini mendorong masyarakat mengalihkan investasinya ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, sehingga permintaan emas meningkat signifikan. Selain emas, beberapa komoditas ikan juga tercatat memberikan andil inflasi.
Langkah Nyata Kendalikan Harga
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, KPwBI Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Sepanjang Januari 2026, berbagai langkah konkret telah dijalankan.
Di Kota Pematangsiantar, digelar Focus Group Discussion (FGD) Inflasi yang melibatkan Bank Indonesia, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Badan Pusat Statistik (BPS), serta Bulog. FGD rutin ini menjadi forum strategis untuk menyusun langkah antisipatif, termasuk rencana peluncuran Early Warning System (EWS), pelaksanaan pasar murah, serta Gerakan Pangan Murah (GPM) menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2026.
Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, BI mendorong penguatan ketahanan pangan rumah tangga melalui Pelatihan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang diikuti oleh 15 Kelompok Wanita Tani (KWT). Program ini akan berlanjut dengan lomba P2L guna meningkatkan partisipasi dan kemandirian pangan masyarakat.
Komitmen pengendalian inflasi juga ditegaskan melalui High Level Meeting (HLM) TPID Kota Pematangsiantar, yang dirangkaikan dengan peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) pada akhir Januari 2026.
Waspada Tekanan Jelang Ramadhan
Ke depan, BI memproyeksikan deflasi masih berlanjut pada Februari 2026, seiring meningkatnya pasokan akibat musim panen dan curah hujan yang relatif memadai. Namun demikian, tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan I 2026.
Karena itu, penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan serta pemanfaatan Early Warning System yang segera diluncurkan menjadi kunci menjaga stabilitas harga. Dengan langkah yang terukur dan sinergi yang kuat, Bank Indonesia optimistis inflasi 2026 tetap berada dalam target, sekaligus menjaga daya beli masyarakat. (*)



























Discussion about this post