
Oleh WH Butarbutar
SIMALUNGUN | – Kisah pilu datang dari pelosok Desa Dolok, Dusun Kaesah, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun. Seorang ibu janda bernama Porman Boru Nababan (44) hidup dalam keterbatasan yang nyaris tak terbayangkan. Ia buta, bisu, dan tuli — terkurung dalam sunyi di rumah kecil berukuran 5×12 meter yang nyaris roboh.
Tanah tempat ia berpijak adalah satu-satunya peninggalan keluarga. Di atas tanah itu berdiri gubuk berdinding gedek dari pelepah kelapa sawit yang telah membusuk, ditambal dengan karung plastik bekas pupuk untuk menahan dingin malam. Atapnya pun bocor di setiap turunnya hujan. Lantai tanah menjadi saksi perjuangan hidup seorang ibu yang tak lagi bisa melihat dunia, namun tetap tegar menjaga harapan kecil di hatinya.
Porman tidak sendiri. Ia tinggal bersama putrinya, Miranti (21) — seorang janda muda yang menjadi tulang punggung keluarga — dan cucunya Brian, bocah berusia dua tahun yang masih polos dan penuh tanya. Setiap hari, Miranti bekerja serabutan, menerima upah Rp50 ribu bila ada yang mempekerjakan. Dalam seminggu, ia hanya bisa bekerja tiga kali. Saat tak ada pekerjaan, Miranti mencari sapu lidi sawit di kebun milik orang lain untuk dijual. Dengan sabar dan pasrah, ia jalani hari demi hari, berjuang di antara harapan dan kesulitan.
Laporan yang Menggerakkan Nurani
Kisah memilukan ini pertama kali diketahui melalui seorang pemerhati sosial bernama WH Butarbutar, yang melaporkannya melalui pesan WhatsApp kepada Pangulu Desa Dolok, Camat Bandar Huluan, hingga Bupati Simalungun, H. Ahmad Anton Saragih.
Laporan tersebut segera ditindaklanjuti. Pangulu setempat langsung membuat permohonan bedah rumah ke Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui dinas terkait. Namun karena anggaran belum terbuka, bantuan cepat masih menunggu proses resmi.
Tak menunggu waktu lama, Camat Bandar Huluan, Akbar Putra Siregar, bersama staf dan pendamping desa, Melda dan Pohan, turun langsung meninjau kediaman Porman Boru Nababan.
Saat menyaksikan kondisi rumah yang nyaris ambruk itu, Camat Akbar tak kuasa menahan air mata. Ia langsung menyerahkan bantuan darurat berupa pakaian, selimut, tilam, serta kebutuhan sehari-hari, disusul Ibu Melda yang memberikan susu, pakaian, dan sejumlah uang tunai.
Gerakan Kemanusiaan Dimulai
Melihat kondisi yang memilukan, Camat Akbar Putra Siregar dengan tegas menyatakan bahwa rumah layak huni bagi Porman harus segera dibangun tanpa menunggu anggaran pemerintah.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berdonasi dan saling berbagi rezeki demi kemanusiaan.
“Kita tidak boleh menunggu. Ini panggilan hati. Mari bergotong royong, satu genggam pasir pun sangat berarti untuk membangun rumah Ibu Porman,” ujar Camat Akbar dengan mata berkaca-kaca.
Seruan itu mendapat sambutan luar biasa. Donasi mulai berdatangan.
WH Butarbutar, pemerhati sosial yang pertama kali melaporkan kondisi Porman, menjadi yang pertama mengulurkan tangan. Pada Selasa (21/10/2025), ia menyerahkan bantuan berupa 1 truk batu padas, 10 sak semen, serta dua daun jendela lengkap dengan kusennya.
Langkah kecil ini menjadi awal dari gerakan kemanusiaan spontan di Simalungun, di mana warga saling bahu membahu membantu sesama yang terlupakan.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Kini, di tengah kesunyian hidupnya, Porman Boru Nababan mulai memiliki secercah harapan. Di balik bisu dan gelapnya dunia yang ia lihat, kasih sayang dan kepedulian sesama hadir menggantikan suara dan cahaya.
Semoga langkah mulia ini menjadi inspirasi bagi banyak orang — bahwa kemanusiaan tidak perlu menunggu kaya, cukup dimulai dengan hati yang peka dan tangan yang mau menolong.(*)
No Result
View All Result
Discussion about this post