Oleh Redaksi
Suatu pagi kami dikejutkan dengan kedatangan sang oposisi penghitung hari Wak Kukek Kukek. Tidak seperti biasa memang. Dengan memakai kemeja hitam berlis merah seragam salah satu media tv nampak terlihat gagah.
Pagi ini, beda dengan pagi sebelumnya. kehadiran Wak Kukek Kukek dengan seragam media jadi topik pembicaraan hangat kawan kawan media lainnya. Suasanapun seketika berubah, kami yang nongki dan ngopi di pertigaan Jl Kartini seperti mendapat gagasan dan ide sekaligus topik diskusi yang lagi trend dimasa kepemimpinan Wak R di kampung sebelah.
Kopi yang kami nikmati, semangkin bertambah nikmat saja saat RG mulai menayakan kepada Wak Kukek Kukek, tentang postingannya di media sosial terkait hitungan hari kerja Wak R di kampung sebelah dengan taglinenya Makan Enak Tidurpun Nenyak.
Sebagai oposisi kawakan, Wak Kukek menjadi tanda tanya kawan kawan media. Pasalnya, postingan yang telah menyita begitu banyak netizen secara tiba tiba berhenti dan tidak tayang lagi di media sosial. Apakah Wak Kukek Kukek telah mendapat amprah dari Wak R di kampung sebelah.
“Kenapa Tuan berhenti menghitung hari sebagai oposisi, apakah sudah tidak idialis lagi. Atau sudah menjadi idielis. Kalau soal perut kita siap ko bontot dari rumah, tidak harus menggunakan APBD. Apa tuan perlu saya bontotkan agar tuan kembali menghitung hari harinya Wak R, seperti biasa,” katanya.
Mendengar ocehan RG yang mulai memojokan, sementara sebelumnya Wak Kukek berupaya mencecar otak bawah sadar kami, sambil tertawa santai. Seolah konsultan politik handal di kampungnya, dengan nada ringan mengatakan, “Menghitung hari kinerja penguasa, memang sudah kita hentikan sementara. Tapi kita masih menunggu momen dan langkah serta strategi yang jitu”.ungkap wak kukek.
Diskusi pun semangkin sengit dan menarik, manakala SK pengangkatan stafus dan SK mutasi pejabat dilingkungan Kampung Sebelah menjadi topik pembahasan.
“Pada masa itu, kalau kawan kawan media paham isi SK tersebut dan menjadi topik pemberitaan, sudah dapat dipastikan penguasa jadi sasaran, dan yang kita jaga pada masa itu kawan kawan media yang paham. SK yang beredar saat ini produk siapa?.. kita tau isi SK poin perpoinnya. Makanya melalui surat resmi kita sudah layangkan ke Kampung Sebelah sesuai Undang Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi,” katanya.
Celotehnya mendapat tanggapan dari RG, Jujur tuan!.. kalau DPRD paham apa yang menjadi topik diskusi kita pagi ini, wahh dari awal awal sudah mereka lakukan. Tapi persoalannya mereka tidak memahaminya. “Tuan pernah menjadi bagian penting dalam menentukan posisi jabatan seseorang dikampung sebelah, makanya tau betul apa yang terjadi. Hal wajar meminta dokumen melalui surat resmi. Tapikan tuan sudah dapatan dari Penguasa Kampung sebelah kan,” tegasnya.
Kalau masalah dapatan atau tidak, tidak etis kita bicarakan di tempat ini. Tapi, kalau pertemuan sudah tiga empat kali. Dan ada tawaran dari penguasa kampung sebelah, ada sih!.. katanya dan menambahkan celotehnya.
“Pernah juga ditawarkan, tapi saya tolak. Untuk apa saya terima kalau toh honor yang saya terima lebih besar dari posisi saya sekarang..kenapa harus berhenti?…kukek kukek di medsos. Ini trik, ketika orang pada ikut ribut ya lebih baik stop dulu untuk sementara. Karena nanti anggapan penguasa kampung sebelah ada kolaborasi yang kita bangun, sementara dari hari pertama kukek kukek kita yang menjadi perhatian,” ungkapnya.
Tiba tiba AT ikut nimbrung, “memang masih tuanlah!,….ternyata di kampung sebelah kukek kukek tuan masih diakui, dan menjadi perhatian Netizen”, katanya.
Tanpa disadari, diskusi semangkin seru, teman teman wartawan kembali mendengar ocehan Wak Kukek, perihal dirinya ketemu penguasa kampung sebelah dengan tawaran yang diuraikan diatas. Tapi celotehnya yang menarik, enam bulan kedepan Big Bos Wak Kukek Kukek bakal nginap di Hotel Prodio.
Ancaman tersebut membuatnya tinggi dan membalas dengan ancaman juga. ” kita hitung bang!..enam bulan, ya!.. berarti bulan agustus. Kita liat!…Abang atau bosku yang masuk.Ini janjiku,” katanya dengan nada khasnya dan sekali kali menyumpah “sampah”.
Celoteh kami pagi itupun, menjadi bahan buat diri kami masing masing. Entah benar atau tidak bualannya, yang pasti kami semua terhibur dan menambah spirit buat kami berkarya dalam menjajikan liputan handal. Dan tetap dalam program 7 Inspirasi Untuk Anak Negeri.(*)
No Result
View All Result
Discussion about this post