
FRAGMEN TRAGEDI 1965 GUGAH RIBUAN WARGA, SEMANGAT KESAKTIAN PANCASILA KEMBALI DIKOBARKAN
SIMALUNGUN – Di tanah perkebunan Bandar Betsy, sejarah tidak sekadar dikenang. Di tempat ini, darah dan pengorbanan seorang prajurit menjadi saksi perjuangan mempertahankan negara.
Letda Anumerta Sujono gugur dalam peristiwa kelam tahun 1965. Enam puluh satu tahun berlalu, pengorbanannya kembali dikenang melalui Upacara Hari Kesaktian Pancasila tingkat Provinsi Sumatera Utara, yang berlangsung khidmat dan penuh haru.
Pemirsa, Suasana khidmat menyelimuti Monumen Letda Anumerta Sujono, Bandar Betsy, Kabupaten Simalungun, Kamis, 1 Oktober 2026.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, H. Surya, bertindak sebagai Inspektur Upacara, dengan Letkol Inf Mahfuz, sebagai Komandan Upacara.
Ribuan peserta dari unsur pemerintah, TNI-Polri, pelajar, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat, hadir untuk mengenang sejarah sekaligus meneguhkan komitmen menjaga Pancasila.
Rangkaian upacara diawali dengan hening cipta, pembacaan Pancasila, ikrar, Pembukaan UUD 1945, dan doa.
Penghormatan kemudian dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga di Monumen Letda Sujono serta penyerahan tali asih kepada keluarga almarhum dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Simalungun, Kota Pematangsiantar, PTPN III, dan lembaga perbankan.
Namun, perhatian ribuan warga tertuju pada satu momen yang menggugah emosi. Fragmen teatrikal peristiwa G-30S di Bandar Betsy, diperankan langsung oleh masyarakat setempat.
Adegan demi adegan menggambarkan kembali tragedi yang merenggut nyawa Letda Sujono saat mempertahankan aset negara.
Anak-anak hingga orang dewasa menyaksikan dengan khidmat.
Bukan sekadar pertunjukan. Fragmen ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan, persatuan, dan keutuhan bangsa memiliki harga pengorbanan yang besar.
Dari Bandar Betsy, pesan sejarah kembali bergema. Jangan lupakan pengorbanan para pahlawan. Rawat persatuan. Teguhkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(*)


























Discussion about this post