
Oleh Redaksi
SIMALUNGUN — Jalur alternatif yang selama ini diharapkan menjadi solusi kelancaran arus wisata menuju kawasan Danau Toba, justru berubah menjadi lintasan maut. Kecelakaan tragis terjadi di ruas Pondok Buluh–Sitahoan, lingkar luar Parapat, Selasa siang (24/3/2026), merenggut tiga nyawa dari satu keluarga.
Peristiwa nahas ini melibatkan sebuah truk bermuatan baja ringan yang diduga gagal menanjak. Alih-alih berhenti, kendaraan berat tersebut justru mundur tak terkendali sebelum akhirnya menghantam mobil Toyota Kijang yang membawa enam penumpang asal Rokan Hilir.
Benturan keras tak terelakkan. Tiga korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi, yakni Sunarno (50), sopir Kijang, serta dua penumpang remaja, Jihan Meilani Nasution (17) dan Yeni Hafizah Putri (17). Ketiganya diketahui masih satu keluarga besar.
Kecelakaan ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Reynaldi, salah satu anggota keluarga, mengungkapkan rombongan mereka berangkat dari Rokan Hilir dengan tujuan berwisata sekaligus berziarah, memanfaatkan momen libur Lebaran.
“Sudah beberapa kali kami istirahat sebelum kejadian. Tapi di jalur itu, truk bermuatan baja ringan gagal nanjak, mundur, lalu menghantam mobil keluarga kami,” ujarnya dengan suara bergetar.
Menurut Reynaldi, rombongan keluarga terbagi dalam beberapa kendaraan. Sebagian hendak berziarah, sementara lainnya berencana menikmati liburan di kawasan Danau Toba. Namun perjalanan yang seharusnya penuh kebahagiaan itu berubah menjadi tragedi memilukan.
Di balik insiden ini, muncul sorotan tajam dari masyarakat. Pasalnya, kecelakaan terjadi di tengah berlangsungnya Operasi Ketupat Toba 2026, di mana sejumlah Pos Pengamanan (Pos PAM) berdiri di sepanjang jalur tersebut untuk menjamin keselamatan pemudik.
Ironisnya, keberadaan truk bermuatan besar yang diduga over dimensi dan over load (ODOL) masih terlihat bebas melintas di jalur wisata, bahkan saat arus libur Lebaran tengah meningkat.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius publik: sejauh mana efektivitas pengawasan terhadap kendaraan bertonase besar di jalur rawan? Mengapa kendaraan berat tetap diizinkan beroperasi di jalur alternatif yang sempit dan menanjak?
Minimnya pengawasan serta dugaan pelanggaran aturan lalu lintas kini menjadi sorotan. Tidak adanya pembatasan tegas terhadap operasional truk besar selama masa libur Hari Raya Idul Fitri dinilai turut memperbesar risiko kecelakaan.
Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan. Tiga nyawa telah melayang dan publik kini menuntut jawaban: siapa yang harus bertanggung jawab?
Apakah kelalaian pengemudi, lemahnya pengawasan aparat, atau pelanggaran oleh pihak pengusaha angkutan?
Yang pasti, jalur yang seharusnya menjadi akses menuju keindahan alam kini menyisakan luka mendalam dan duka yang tak tergantikan bagi keluarga korban.(*) 



























Discussion about this post