Oleh BaBE
Simalungun, Sumatera Utara — Politik balas budi tampaknya masih menjadi cerita lama yang terus berulang di panggung demokrasi Indonesia. Selama kontestasi pemilihan kepala daerah masih bertumpu pada instrumen politik tim sukses, praktik kedekatan kekuasaan dan distribusi jabatan dinilai sulit tergerus oleh waktu.
Fenomena tersebut kembali mencuat di Kabupaten Simalungun. Setelah Pilkada berlalu, satu per satu figur yang tercatat sebagai bagian dari Tim Pemenangan Anton–Benni mulai menempati posisi strategis di lingkungan pemerintahan daerah.
Teranyar, Bupati Simalungun Haji Anton Achmad Saragih meloloskan Iman Nainggolan sebagai Dewan Pengawas PDAM Tirta Lihou periode 2025–2029, sebuah penunjukan yang menuai sorotan publik.
Tak berhenti di situ, pada Senin (22/12/2025), Bupati Simalungun kembali mengukuhkan Fuji Rahmat Harahap sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Simalungun periode 2025–2030. Prosesi pengukuhan berlangsung di Balai Harungguan Djabanten Damanik, Kantor Bupati Simalungun, Pematang Raya, dan disaksikan langsung oleh sejumlah tokoh penting daerah.
Fuji Rahmat Harahap bukanlah nama baru di lingkaran kekuasaan. Ia dikenal sebagai Ketua Tim Pemenangan Anton–Benni pada Pilkada lalu, sekaligus Ketua Umum Semangat Baru Indonesia, salah satu organisasi kemasyarakatan yang tengah berkembang di tingkat nasional.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan, Fuji terpilih sebagai Ketua FKUB dan secara resmi dikukuhkan oleh Bupati Simalungun.
Penunjukan tersebut semakin menguatkan persepsi publik bahwa elit tim pemenangan Anton–Benni secara bertahap memperoleh posisi strategis yang berkaitan langsung dengan pengelolaan anggaran dan kebijakan pemerintah daerah.
Meski berlangsung sederhana, prosesi pengukuhan FKUB dihadiri oleh berbagai tokoh lintas sektor. Momentum ini secara simbolik menjadi penegasan komitmen FKUB dalam menjaga harmoni antarumat beragama di Kabupaten Simalungun—daerah yang selama ini dikenal sebagai rumah bersama bagi keberagaman keyakinan.
Dalam pidato perdananya, Fuji menegaskan bahwa tugas FKUB bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan memastikan perbedaan tidak bermuara pada konflik, prasangka, maupun jarak sosial.
“FKUB tidak boleh hanya hadir ketika konflik sudah terjadi. FKUB harus hadir sebelum api menyala, melalui dialog, edukasi, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat,” ujar Fuji.
Ia juga menekankan komitmennya menjadikan FKUB sebagai ruang dialog yang hidup, inklusif, dan tidak elitis.
“Kami ingin FKUB menjadi jembatan, bukan menara; menjadi peneduh, bukan penghakim,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simalungun, H. Bahrum Saleh, menyatakan pihaknya siap memberikan pengayoman kepada seluruh umat beragama. Ia mengajak FKUB untuk terus membuka ruang dialog dan mendengarkan aspirasi lintas iman demi kontribusi positif bagi kehidupan sosial ke depan.
Di kesempatan yang sama, Bupati Simalungun H. Anton Achmad Saragih menyebut pengukuhan pengurus FKUB sebagai pekerjaan mulia. Ia berharap 20 pengurus yang dilantik dapat bekerja sebagai pelayan bagi seluruh umat beragama tanpa kecuali.
Menurut Bupati, Kabupaten Simalungun selama ini dikenal rukun dan damai meski memiliki keragaman agama yang tinggi. “Mari kita dukung FKUB agar solid dan mampu bekerja dengan baik. Ini adalah pupuk semangat kebersamaan untuk Kabupaten Simalungun,” tegasnya.
Acara yang berlangsung penuh kehangatan tersebut turut dihadiri anggota DPRD Simalungun, Kasdim 0207/Simalungun Mayor Inf Prawoto, Kapolres Simalungun yang diwakili AKP Dorlang Pasaribu, Sekretaris Daerah Mixnon Andreas Simamora beserta jajaran pimpinan OPD, serta Ketua MUI Simalungun H. Ki Drajat Purba.
Kehadiran para tokoh lintas institusi itu menjadi simbol komitmen bersama menjaga kerukunan umat beragama di Simalungun. Namun di sisi lain, dinamika politik pasca-Pilkada kembali memunculkan pertanyaan publik: di mana garis pemisah antara pengabdian, loyalitas politik, dan kepentingan kekuasaan?.(*)



























Discussion about this post