
Oleh BaBE
Tarutung, 6 Oktober 2025 — Proyek pembangunan pagar beton yang mengelilingi Terminal Penumpang Type A Madya Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, menjadi sorotan. Pasalnya, pengerjaan tembok pagar tersebut diduga menggunakan kembali pondasi lama, sehingga memunculkan kekhawatiran publik terkait kekuatan dan ketahanannya, apalagi di wilayah yang dikenal rawan gempa bumi.
Pantauan wartawan di lokasi, pagar beton yang saat ini sedang dibangun tampak berdiri di atas pondasi bekas pagar lama yang hanya dibongkar sebagian. Bagian bawah tembok lama sekitar 20 sentimeter dari permukaan aspal dibiarkan, lalu ditumpuk kembali dengan pasangan batu dan semen. Di atasnya kemudian dipasang panel beton sebagai struktur pagar baru.
Proyek ini tercatat sebagai bagian dari kegiatan Revitalisasi/Peningkatan Terminal Penumpang Type A Madya Tarutung, dikerjakan oleh kontraktor pelaksana CV. Khayra Permata, dengan anggaran sebesar Rp1.253.221.267. Proyek tersebut berada di bawah tanggung jawab Kementerian Perhubungan, melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah II Sumatera Utara.

Kontraktor: “Sesuai Gambar”
Saat dikonfirmasi wartawan, Awalluddin, yang mengaku sebagai perwakilan CV. Khayra Permata, membenarkan bahwa pembangunan tembok pagar sepanjang ±430 meter tersebut menggunakan pondasi lama.
“Itu sesuai dengan gambar pekerjaan,” ujarnya singkat di lokasi proyek, tanpa menjelaskan lebih lanjut teknis maupun alasan penggunaan pondasi lama.
Awalluddin kemudian buru-buru meninggalkan lokasi dengan alasan ingin menemui pihak pengawas dari Balai Pengelola Transportasi Darat. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak pengawas proyek.
Finishing Terbengkalai, Pekerjaan Belum Rapi
Selain penggunaan pondasi lama, pekerjaan akhir (finishing) juga tampak belum tuntas. Sampah proyek dan material bekas masih berserakan di sekitar area terminal, menunjukkan belum dilakukannya pembersihan lokasi yang seharusnya menjadi bagian dari tahap akhir pelaksanaan proyek.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik mengenai kualitas pekerjaan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut, terlebih lagi jika dikaitkan dengan standar keselamatan bangunan di wilayah rawan bencana seperti Tapanuli Utara.

Publik Pertanyakan Kelayakan dan Pengawasan
Praktisi konstruksi dan warga setempat mulai mempertanyakan apakah proyek ini telah memenuhi standar teknis dan kelayakan, khususnya terkait kekuatan struktur bangunan. Dalam situasi seperti ini, pengawasan dari pihak terkait—baik dari pemerintah pusat maupun daerah—dianggap sangat krusial.
Pemerintah diharapkan segera memberikan penjelasan resmi kepada masyarakat, guna memastikan bahwa proyek dengan nilai anggaran besar ini benar-benar memberikan manfaat optimal dan aman bagi publik.(*)
No Result
View All Result
Discussion about this post