Oleh BaBE
Pematangsiantar | – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Pematangsiantar melaporkan tekanan inflasi di wilayah kerja Sisibataslabuhan pada Agustus 2025 mengalami lonjakan cukup signifikan. Melalui siaran pers resmi, Plt. Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, Rabu (3/9/2025), mengungkapkan bahwa angka inflasi di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu tercatat berada di atas rata-rata nasional.
Data, Unit Data Statistik dan Kehumasan (UDSK) BI menyebutkan, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) di Kota Pematangsiantar mencapai 1,21 persen, dengan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) menembus 5,44 persen. Angka ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang hanya 0,79 persen.
Sementara itu, Kabupaten Labuhanbatu mencatat inflasi bulanan sebesar 2,09 persen, melonjak tajam dari bulan Juli yang hanya 0,43 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Sumatera Utara yang berada di level 1,37 persen (mtm), bahkan jauh di atas inflasi nasional yang justru mencatat deflasi -0,08 persen (mtm).
Pemicu Lonjakan Inflasi
Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis menjadi penyumbang terbesar inflasi. Di Kota Pematangsiantar, bawang merah, cabai merah, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama. Sedangkan di Kabupaten Labuhanbatu, inflasi lebih dipicu oleh lonjakan harga bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah.
Sebaliknya, beberapa komoditas seperti tomat, jeruk, bawang putih, hingga kelapa justru mencatatkan deflasi meski tidak cukup kuat menahan laju kenaikan harga pangan.
BI menjelaskan, lonjakan harga hortikultura dipengaruhi terbatasnya pasokan akibat musim kemarau panjang di sentra produksi Sumatera Utara, khususnya Simalungun, Karo, dan Batubara. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, ditambah kenaikan biaya produksi, memperparah tekanan inflasi di bulan Agustus.
Strategi Pengendalian Inflasi
Untuk menahan gejolak harga, sejumlah langkah telah dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama BI, di antaranya:
-
Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM)
Sebanyak 75 titik pasar murah dan GPM telah digelar di wilayah Sisibataslabuhan. Dalam kegiatan ini, masyarakat juga diajak bertransaksi menggunakan QRIS dengan insentif berupa souvenir bawang merah dan cabai merah.
-
Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L)
BI mendorong kemandirian pangan masyarakat melalui pelatihan P2L kepada 10 kelompok wanita tani (KWT). Peserta dilatih menanam tomat, cabai merah, terong, dan pakcoy untuk mengurangi belanja harian sekaligus membuka peluang usaha.
-
Rapat HLM TPID Kota Pematangsiantar
Pemerintah Kota bersama BI bersepakat rutin melaksanakan Pasar Murah setiap awal pekan, menjajaki Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk menjamin pasokan, serta membangun “warung tekan inflasi” di pasar tradisional guna menstabilkan harga melalui pengaruh psikologis bagi pedagang.
Proyeksi ke Depan
BI memprediksi tekanan inflasi akan mulai mereda pada September 2025. Masuknya musim hujan diperkirakan meningkatkan hasil panen petani, sementara pasokan dari Jawa mulai masuk ke pasar Sumatera Utara. Faktor ini diharapkan mampu menurunkan harga pangan dan menekan inflasi di periode mendatang.
“Dengan sinergi seluruh pihak, kami optimis inflasi dapat dikendalikan sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujar Ahmadi Rahman menegaskan.(*)
No Result
View All Result
Discussion about this post