BERITAMONALISA.COM | TAPTENG | – Warga Dusun Lae Rindang, Desa Parsihotangan, Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara (Sumut), mengungkapkan penyesalan mereka terhadap proyek pembangunan jalan rabat beton yang didanai oleh Dana Desa Tahun Anggaran 2023.
Riswan Siringoringo
Riswan Siringoringo (51) dan Erlina boru Hotang (52), dua pemilik lahan sawah di Dusun Lae Rindang, mengeluhkan dampak negatif pembangunan jalan tersebut terhadap lahan pertanian mereka. Menurut Erlina, sebelum adanya jalan rabat beton, lahan persawahannya didukung oleh sistem irigasi yang baik, namun kini saluran air menjadi sempit dan bahkan beberapa parit tertutup oleh konstruksi jalan.
“Sejak jalan rabat beton ini dibangun, saluran air kami menyempit, dan parit yang mengalirkan air ke sawah kami tertutup. Akibatnya, air tidak bisa mengalir dengan baik,” ujar Erlina.
Riswan Siringoringo menambahkan bahwa penutupan saluran air menyebabkan banjir di sawahnya dan sawah milik warga lainnya, sehingga lahan tidak dapat lagi diolah.
“Penutupan saluran pembagi air membuat air dari parit irigasi menerobos langsung ke sawah tanpa jalur pembuangan yang memadai, sehingga sawah kami kebanjiran,” katanya.
Riswan juga menekankan bahwa pembangunan jalan rabat beton ini sangat merugikan petani sawah di Dusun Lae Rindang. Setiap kali hujan turun, sawah warga menjadi tergenang air.
“Beberapa warga bahkan terpaksa membangun tembok penahan air untuk melindungi tanaman padi mereka dari limpahan air irigasi,” ungkap Riswan.
Riswan mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepala desa yang tidak memperhatikan keluhan warga dan mengambil keputusan tanpa musyawarah dengan pemilik lahan.
“Dalam musyawarah desa tahun 2022, jalan rabat beton ini seharusnya dibangun di seberang jalan besar, bukan di sini,” tambahnya.
Tim liputan beritamonalis.com melaporkan bahwa jalan rabat beton yang dibangun dengan Dana Desa 2023 ini baru berusia kurang dari satu tahun namun sudah menunjukkan retakan.
Upaya untuk mengonfirmasi Kepala Desa Parsihotangan, Atur Pincen Situmorang, tidak berhasil dilakukan. Menurut warga, kepala desa sedang berada di luar kota. Upaya menghubungi melalui telepon selular dan WhatsApp juga tidak mendapat respons.(*)
Discussion about this post