
Oleh Redaksi
Pematangsiantar – Inflasi di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu mengalami kenaikan signifikan pada April 2025. Melalui siaran pers tertulis yang diterima redaksi beritamonalisa.com pada Senin, 5 Mei 2025, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Muqorobin, menjelaskan bahwa inflasi bulanan (month to month/mtm) di Pematangsiantar tercatat sebesar 1,14%, sementara di Labuhanbatu mencapai 1,25%.
Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan Februari 2025, di mana kedua daerah justru mengalami deflasi. Pematangsiantar saat itu mencatat deflasi -0,86% dan Labuhanbatu -0,59%.
“Peningkatan inflasi ini utamanya disebabkan oleh normalisasi tarif listrik pasca HBKN Idul Fitri 1446 H serta peningkatan permintaan masyarakat,” ujar Muqorobin.
Komoditas penyumbang inflasi terbesar di Kota Pematangsiantar adalah:
- Tarif listrik: 0,80%
- Emas perhiasan: 0,19%
- Bawang merah: 0,10%
Sedangkan komoditas yang menekan inflasi (deflasi) terbesar adalah:
- Kentang: -0,08%
- Cabai rawit: -0,06%
- Daging ayam ras: -0,04%
Sementara itu, di Kabupaten Labuhanbatu, komoditas dengan kontribusi inflasi tertinggi adalah:
- Tarif listrik: 0,69%
- Cabai merah: 0,44%
- Emas perhiasan: 0,25%
Adapun penyumbang deflasi terbesar di Labuhanbatu meliputi:
- Cabai rawit: -0,21%
- Ikan kembung: -0,14%
- Kentang: -0,11%
Muqorobin juga menegaskan bahwa Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah melakukan berbagai upaya pengendalian, antara lain melalui High Level Meeting (HLM) seluruh wilayah kerja KPwBI Pematangsiantar.
“Dalam HLM tersebut dibahas strategi jangka pendek hingga jangka panjang, seperti pelaksanaan pasar murah, sidak pasar, serta pemetaan pola tanam dan penyusunan neraca pangan,” tambahnya.
Selain itu, BI juga menggandeng TPID dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di beberapa titik. “Pada April 2025, telah dilakukan pasar murah di satu lokasi strategis guna menjaga kestabilan harga pasca Lebaran,” pungkas Muqorobin.(*)



























Discussion about this post