

Di tengah dinamika harga sejumlah komoditas pangan strategis, stabilitas inflasi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar sepanjang September 2026 masih relatif terjaga. Kota Pematangsiantar mencatat inflasi bulanan 0,16 persen, sementara Kabupaten Labuhanbatu sebesar 0,13 persen. Bank Indonesia bersama pemerintah daerah pun memperkuat strategi pengendalian inflasi agar gejolak harga tidak menekan daya beli masyarakat.

Oleh BaBE
PEMATANGSIANTAR — Stabilitas harga pangan menjadi perhatian serius Bank Indonesia bersama pemerintah daerah di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia atau KPwBI Pematangsiantar.
Melalui sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID, berbagai langkah strategis terus dilakukan untuk menjaga laju inflasi sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah dinamika harga sejumlah komoditas pangan strategis.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, melalui rilis tertulis pada Selasa, 6 Oktober 2026, menyampaikan bahwa pengendalian inflasi dilakukan secara konsisten melalui strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, pada September 2026, Kota Pematangsiantar mengalami inflasi sebesar 0,16 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara inflasi tahun berjalan atau year-to-date (ytd) mencapai 2,93 persen.

Di wilayah lainnya, Kabupaten Labuhanbatu mencatat inflasi 0,13 persen secara bulanan, dengan inflasi tahun berjalan mencapai 3,57 persen.
Jika dilihat secara tahunan, inflasi Kota Pematangsiantar tercatat 3,78 persen secara year-on-year (yoy).
Sedangkan Kabupaten Labuhanbatu mencatat inflasi tahunan sebesar 4,04 persen.
Angka inflasi bulanan yang relatif rendah pada September 2026 menunjukkan kondisi harga di kedua wilayah masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali, meskipun terdapat pergerakan harga pada sejumlah komoditas pangan strategis.
Di Kota Pematangsiantar, tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga cabai merah, daging ayam ras, dan beras.
Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut antara lain dipengaruhi oleh penyesuaian pasokan serta meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat.
Namun, tekanan inflasi tersebut dapat diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas lainnya, seperti tomat, cabai rawit, dan kangkung.
Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, inflasi September 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai merah, cabai hijau, dan ikan dencis.
Di sisi lain, penurunan harga cabai rawit, tomat, dan bawang merah turut menahan laju inflasi sehingga inflasi bulanan tetap berada pada tingkat yang terkendali.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Bank Indonesia bersama pemerintah daerah. Sebab, pergerakan harga pangan tidak hanya berkaitan dengan inflasi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, KPwBI Pematangsiantar bersama TPID terus memperkuat berbagai langkah pengendalian inflasi melalui koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan.
Pemantauan terhadap harga dan ketersediaan pasokan pangan juga dilakukan secara berkala. Langkah ini menjadi bagian penting untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan yang dapat memicu kenaikan harga.
Selain pemantauan, program stabilisasi harga juga terus didorong untuk menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Salah satunya melalui pelaksanaan Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah atau GPM di sejumlah lokasi strategis.
Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, khususnya ketika terjadi tekanan harga pada komoditas tertentu.
Pengendalian inflasi juga diperkuat melalui Kerja Sama Antar Daerah atau KAD. Skema ini diarahkan untuk mendukung kelancaran distribusi pangan dari daerah yang mengalami surplus menuju daerah yang membutuhkan pasokan.
Dengan distribusi yang lebih lancar, risiko terjadinya kelangkaan pasokan maupun lonjakan harga di tingkat konsumen diharapkan dapat diminimalkan.
Tidak hanya berfokus pada pasokan dan distribusi, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga memperkuat aspek komunikasi kepada masyarakat.
Edukasi mengenai pola konsumsi yang bijak dan pengelolaan belanja rumah tangga secara cermat terus dilakukan. Langkah ini penting untuk membantu menjaga ekspektasi masyarakat terhadap perkembangan harga.
Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempertahankan sinergi pengendalian inflasi melalui penerapan strategi 4K secara konsisten dan berkelanjutan.
Penguatan koordinasi, peningkatan ketahanan pangan, optimalisasi distribusi, hingga komunikasi publik yang efektif diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Dengan pengendalian inflasi yang semakin kuat, stabilitas harga diharapkan tidak hanya memberikan kepastian bagi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu fondasi untuk menjaga ketahanan pangan dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah kerja KPwBI Pematangsiantar.(*)



























Discussion about this post