Oleh Budiman Manik
TEBING TINGGI – Kesalahpahaman data HIV/AIDS di Kota Tebing Tinggi akhirnya diluruskan. Di tengah kekhawatiran publik atas angka 698 kasus, Dinas Kesehatan menegaskan: itu bukan lonjakan baru, melainkan akumulasi selama 13 tahun sebuah potret panjang perjuangan deteksi, pengobatan, dan harapan menuju nol infeksi baru.
Pemerintah Kota Tebing Tinggi melalui Dinas Kesehatan memberikan klarifikasi resmi terkait data HIV/AIDS guna mencegah misinterpretasi di tengah masyarakat. Berdasarkan Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Kementerian Kesehatan RI, jumlah 698 kasus merupakan akumulasi sejak tahun 2013 hingga April 2026, bukan peningkatan kasus dalam waktu singkat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi, dr. Fitri Sari Saragih, M.Kes menegaskan, pelurusan informasi ini penting agar publik tidak salah memahami situasi epidemi. Ia menjelaskan, langkah tersebut sejalan dengan target nasional menuju Ending AIDS 2030 melalui pendekatan 95-95-95 yakni 95 persen mengetahui status, 95 persen mendapatkan pengobatan, dan 95 persen mencapai supresi virus.
Di balik angka itu, terdapat strategi yang terus diperkuat. Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan mencatat capaian signifikan dengan melakukan skrining terhadap 5.932 orang atau 93 persen dari target. Dari upaya tersebut, ditemukan 110 kasus baru angka yang disebut sebagai indikator keberhasilan deteksi dini, bukan lonjakan yang mengkhawatirkan.
“Semakin tinggi skrining, semakin banyak kasus tersembunyi yang ditemukan. Ini bagian dari strategi STOP Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan. Ketika deteksi dini berjalan baik, kurva penemuan kasus akan melandai karena rantai penularan segera diputus,” jelas dr. Fitri.
Upaya ini juga didukung layanan kesehatan yang semakin mudah diakses. Pemerintah memastikan masyarakat dapat menjalani tes HIV secara sukarela (VCT) serta memperoleh terapi antiretroviral (ARV) secara gratis di berbagai fasilitas layanan. RSUD dr. H. Kumpulan Pane menjadi pusat rujukan utama, didukung sejumlah puskesmas seperti Satria, Rantau Laban, Pabatu, Pasar Gambir, dan Tanjung Marulak yang aktif melakukan skrining jemput bola.
Tak hanya itu, kolaborasi dengan berbagai lembaga turut memperkuat penanganan di lapangan. Yayasan Medan Plus berperan dalam pendampingan pasien, sementara Yayasan Charitas PSE, PKBE Sumut, dan YKS aktif dalam penjangkauan serta mentoring komunitas.
Namun, tantangan masih nyata. Stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi hambatan serius, ditambah keterbatasan akses pada populasi kunci serta rendahnya pemahaman masyarakat tentang tes mandiri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinas Kesehatan terus mendorong inovasi, seperti program notifikasi pasangan mengajak pasangan pasien untuk ikut tes serta perluasan skrining pada ibu hamil dan pasien tuberkulosis. Edukasi pencegahan juga diperkuat guna memastikan tidak ada kasus yang luput dari deteksi.
Pemerintah Kota Tebing Tinggi menegaskan komitmennya dalam mewujudkan tiga target utama: Zero New Infection, Zero AIDS-Related Death, dan Zero Discrimination. Fokus perhatian diarahkan pada populasi kunci, termasuk lelaki suka lelaki (LSL), pekerja seks, dan pengguna napza, dengan pendekatan yang lebih humanis dan inklusif.
Pengamat kebijakan publik dan anggaran, Ratama Saragih, turut mengapresiasi langkah Dinas Kesehatan. Ia menilai upaya yang dilakukan telah menunjukkan pendekatan preventif yang kuat, terutama dalam menekan laju penyebaran HIV di Kota Tebing Tinggi.
Menurutnya, sosialisasi dan edukasi yang konsisten menjadi kunci keberhasilan deteksi dini sekaligus perlindungan masyarakat dari penyakit yang masih menyisakan stigma ini.
Ia pun berharap Dinas Kesehatan di bawah kepemimpinan dr. Fitri Sari Saragih terus meningkatkan kewaspadaan dini serta memperkuat sistem pelayanan publik yang sudah berjalan, agar penanganan HIV/AIDS semakin responsif, inklusif, dan berkelanjutan.(*)



























Discussion about this post